KECEWA

Hari ini.......
Aku cukup bahagia........
Namun cukup juga aku kecewa jika melihat kembali kemasalalu.......

Aku kecewa jika pada saat itu aku belum bisa bahagiakan kedua orang tuaku.
Namun kini aku sudah tak berdaya.
Aku sudah menikah sudah punya anak yang mungkin kebutuhannya bukan cuma buat aku melainkan buat keluarga kecilku yang masih banyak lagi yang harus aku topang.

Aku hanya bisa merenungi tentang semua ini.
Mungkin aku tak seberuntung teman-temanku yang lain
Tak sekaya tetangga-tetanggaku pada saat itu.

Jujur aku hanya orang yang tak punya akupun terlahir dari keluarga yang buta huruf yang tak tau apa-apa tentang kehidupan diluar sana.

Jika teringat tentang semua itu aku tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata
Sedih sudah pasti.
Mau berbuat sesuatu aku tak tau harus lewat manah selain menunggu keajaiban dari sang pencipta mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan.

https://www.appsgeyser.com/social_widget/social_widget.php?width=295&height=150&apkName=VinoSanteria_8686507&simpleVersion=no


Luka yang Berbicara dalam Diam


Dulu, tanganmu kupercaya genggam erat sang matahari,

Kau janjikan cahaya abadi, penghangat di malam kelam.

Kubangun istana keyakinan di atas pilar kata-katamu,

Bersandar pada sumpah setia, yang menggema bagai azan.

Kau adalah pelabuhan teduh, saat badai hidup mengganas,

Tempatku berlabuh tenang, melepas segala beban.

Di ruang hatimu yang kusangka suci, kusimpan rahasia terdalam,

Bagai mutiara di kerang, kupercayakan tanpa sisa.


Tapi diam-diam, kautempa belati dari bayang-bayang senyum,

Dibalut kata manis, seperti madu bercampur racun.

Kausembunyikan niat retak, di balik topeng persahabatan,

Atau mungkin cinta semu, yang kau mainkan dengan piawai.

Saat kuyakin kau penjaga, ternyata kaulah serigala,

Mengendap di kegelapan, menunggu saatku lengah.

Dan ketika kau sabetkan pisau itu, tepat di sela-sela tulang rusuk,

Bukan hanya darah yang mengucur, tapi seluruh semesta runtuh.


Aku terjatuh, bukan karena tikaman yang kau lancarkan,

Tapi karena tanah di bawahku, yang kau gali diam-diam selama ini.

Kepercayaan yang kau curi, bukan sekedar barang berharga,

Tapi fondasi jiwaku, yang kau hancurkan jadi debu.

Kau saksikan aku tersungkur, dengan tatapan apakah itu?

Bosan? Puas? Atau mungkin, dinginnya batu tak bernyawa?

Luka fisik mungkin sembuh, meninggalkan garis pucat samar,

Tapi luka pengkhianatan, meradang dalam setiap tarikan nafas.


Sekarang, setiap senyum tulus, terasa seperti topeng potensial,

Setiap kata ramah, menggema seperti jeruji yang bersiap mengurung.

Kau ajarkan aku bahasa baru: bahasa curiga, bahasa waspada,

Bahasa yang mempertanyakan setiap kehangatan, setiap uluran tangan.

Dunia yang dulu terang, kini dipenuhi bayangan yang menari-nari,

Setiap langkah kaki, seperti menginjak ranjau ingatan akan sikapmu.

Aku bertanya pada cermin: "Apa yang salah padaku?"

Hingga layak kau perlakukan, bagai sampah yang kau injak-injak?


Kau tinggalkan bukan hanya duka, tapi juga cermin retak,

Memantulkan diriku yang pecah, dan bayanganmu yang kotor.

Mencoba menyatukan kepingan, tangan ini gemetar dan ragu,

Bagaimana mempercayai lagi, jika yang menusuk adalah yang dianggap 'tugu'?

Ada pahit yang mengendap, lebih pekat dari kopi malam,

Ada dingin yang merayap, lebih menusuk dari salju di puncak.

Kau rampas bukan hanya kedamaian, tapi kemurnian keyakinan,

Bahwa manusia bisa tulus, tanpa agenda terselubung di balik balutan.


Tapi dari puing-puing istana yang kau hancurkan itu,

Tumbuh satu kesadaran: aku lebih kuat dari sangkamu.

Air mata yang mengalir deras, bukan tanda kelemahan semata,

Tapi sungai yang membersihkan luka, menyiapkan tanah baru.

Pengkhianatanmu yang keji, mengajarku arti ketangguhan sejati,

Bahwa cahaya dari dalam, tak bisa kau padamkan selamanya.

Aku belajar membedakan, antara emas murni dan besi berlapis emas,

Antara tulus yang hangat, dan kepalsuan yang membakar.


Aku tak akan membiarkan racunmu mengkristal di hatiku selamanya,

Tak akan kubiarkan bayanganmu menghalangi sinar mentari esok.

Perjalanan ini masih panjang, walau kakiku sempat goyah,

Aku akan bangkit kembali, membersihkan debu pengkhianatanmu.

Bukan dengan balas dendam, yang hanya akan merantai jiwaku,

Tapi dengan memaafkan diam-diam, demi kedamaianku sendiri.

Dan melangkah lebih hati-hati, tanpa menutup pintu sepenuhnya,

Pada kemungkinan baru, bahwa masih ada kejujuran di dunia ini.


Pengkhianatanmu adalah bab kelam, bukan akhir dari kisahku,

Luka itu akan menjadi parut, mengingatkanku tapi tak lagi menyakitiku.

Kau pilih jalur gelap, meninggalkan jejak noda dan kepedihan,

Aku pilih untuk terus mencari cahaya, walau harus merangkak pelan-pelan.

Dan suatu hari nanti, saat aku berdiri tegak di puncak pencapaian,

Aku hanya akan melirik ke belakang, melihat bayanganmu yang semakin kecil.

Bukan dengan benci, tapi dengan rasa syukur yang aneh dan getir,

Karena lukamu yang dalam, justru mengajarku terbang lebih tinggi.


Komentar

Postingan Populer