Hanya Sebentar Saja
"Hanya Sebentar Saja"
Masih ingatkah kau,
pada surat-surat yang dulu
selalu kuletakkan di jendela kamarmu?
Masihkah kau mengingat diriku—
yang pernah mencintaimu dengan seluruh waktu?
Maafkan aku...
jika sampai hari ini,
aku masih mencarimu.
Masih mengharapkan cintamu,
meski kutahu kau tak lagi
sudi mendengarkan aku.
Aku tak datang membawa harap,
hanya ingin kau tahu:
dulu aku bukan seperti yang kau kira.
Kau salah menilainya—
aku terjebak dalam cerita
yang ditulis oleh mereka
yang membenciku diam-diam,
dan sayangnya,
kau memilih percaya pada mereka
daripada padaku...
yang mencintaimu dalam diam.
Tapi apalah dayaku?
Kau memilih pergi,
dan menghapus namaku dari ingatanmu.
Sudah delapan tahun kita terpisah,
kau entah di mana,
aku tenggelam dalam pekerjaan dan waktu.
Namun kadang,
ingin rasanya aku menjumpaimu,
mengajakmu makan,
bercerita barang sehari saja.
Tapi aku tahu,
itu hanya mimpi yang tertolak sebelum tiba—
karena kau mungkin telah membenciku
sedalam aku pernah mencintaimu.
Tak apa.
Aku sudah belajar merelakan,
sudah mengikhlaskan langkahmu pergi.
Sebenarnya...
aku hanya ingin satu hal:
jadilah temanku—
bukan kekasih,
bukan masa lalu,
tapi seseorang
yang mau duduk bersamaku sejenak,
mengingat tawa kita yang dulu
meski hanya sekali saja.
Setelah itu...
kau bebas kembali pergi.
Takkan kupaksa.
Hanya sebentar saja.
Hanya itu yang aku mau.

Komentar
Posting Komentar