Senja yang Memanggil Kenangan
Senja itu... ya
Senja di kemarin sore yang tersimpan dalam lipatan waktu
Masihkah kau dengar gemerisiknya?
Saat bayang-bayang kita memanjang
Menyatu dengan emas yang mengalir dari ufuk
Kita pernah duduk di tepi sawah
Memandang langit yang perlahan berdarah jingga
Tertawa lepas tanpa sebab
Seperti angin yang bermain di daun kelapa
Bersama kita kejar kupu-kupu senja
Hingga kakimu terluka tersandung batu
Dan tawamu justru mengguncang dunia
Semakin lama kita tatap mentari tenggelam
Semakin pekat kabut turun dari gunung
Dingin mulai menyusup lewat kerah baju
Menggigilkan bahu yang bersentuhan
Di antara kita mengembang sepi yang tak diucapkan
Aku tahu saat itu:
Kau akan pergi seperti cahaya terakhir
Yang tersapu gelap—
Merahmu tinggal cerita
Dalam bingkai waktu yang tak bisa diputar ulang
Senja itu mengajari kita tentang perpisahan
Bahwa setelah petang, malam pasti menjemput
Laksana kedewasaan yang memisahkan kita
Dengan seribu jalan dan janji yang terbelah
Waktu kini menjelma kota sempit
Penuh dengan jam-jam yang berteriak
Tak lagi ada ruang untuk duduk di pematang
Memecah senyum dengan kentang bakar
Aku rindu!
Rindu pada celah-celah cahaya di antara jemarimu
Saat kau tunjuk bentuk awan
Rindu bau jerami basah
Dan nyanyian jangkrik yang kau hitung satu-satu
Kampung halaman bukan hanya tanah
Tapi debu yang melekat di selimut lama
Suara ibu yang memanggil dari ujung jalan
Dan peluh kakek di ladang tembakau
Izinkan aku sejenak
Mencuri detik dari roda zaman
Kubawa segelas teh pahit
Dan piring gorengan yang hangat
Mari kita duduk lagi di kursi kayu reyot
Memandang langit yang sama
Meski kita tahu
Senja ini takkan pernah sama
Dengan kemarin sore yang tersimpan dalam kaleng besi tua
Biarkan angin malam bercerita
Pada bulan yang setia mendengar:
"Jika kalian bertemu lagi—
Sampaikan bahwa aku masih menunggu
Di pematang tempat terakhir senja menyentuh bumi
Dengan tangan-tangan kosong
Yang siap memeluk kenangan."

Komentar
Posting Komentar