Lelaki Biasa
Wajar jika aku tak pandai mengaji
Tak piawai meramu angka
Tak lihai membelah bahasa asing
Tak sempurna menata budi
Tak selalu sesuai teladan
Sebab aku hanya air mengalir
Yang terlahir dari matahari sederhana
Dalam keluarga yang mengajarku
"Jadilah apa adanya, bukan apa yang diada-adakan"
Aku memang lelaki yang tak punya menara
Tak berperisai emas di dada
Hanya bongkahan batu kali
Yang bisa kusodorkan: ketulusan
Dan secangkir kebersahajaan
Jika kaumerindu istana megah
Atau menginginkan purnama sempurna
Kuberi kau angin untuk pergi
Tak kusimpan awan di genggaman
Ikhlas kuletakkan keputusan di telapak tanganmu
Seperti daun kering menyerah pada angin
Akupun tahu diri ini telah sampai di persimpangan
Tak sanggup lagi menyulam mimpi-mimpimu
Menjadi raja yang kau dambakan
Atau pahlawan berjubah sutra
Setiap syarat yang kau tuliskan
Kuterjemahkan dalam diam:
"Rubah dirimu! Hancurkan batasmu!"
Tapi di balik kulit yang keras ini
Mengalir sungai yang telah kehabisan hujan
Akarnya meraih tanah gersang
Tak ada lagi madu untuk kau tuang
Tak ada lagi sayap untuk terbang memenuhi langitmu
Biarlah aku menjadi pecahan tembikar
Yang tetap berguna meski retak
Bukan vas kristal berkilau
Yang kau simpan tinggi-tinggi
Tapi selalu gemetar dihantui pecah
Aku hanya bisa jujur pada debu
Yang menyusun tubuhku:
"Inilah aku—
Tak lebih, tak kurang
Dan mungkin memang tak cukup."

Komentar
Posting Komentar